Luka di malam prom yang membuat megu enggan mengingat masa bahagia sma dan menjadi trauma yang membuatnya melupakan percintaan indah dan membuatnya melampiaskan pada pendidikannya. Dalam kesedihannya, megu selalu di ungkapkan dengan sebuah kopi di sebuah Coffee Shop milikku. Dan malam ini megu kembali duduk dimeja favoritnya seorang diri dengan secangkir kopi latte menemaninya di malam prom yang begitu meriah tanpanya. Namun, bagiku megu merupakan hadiah yang belum aku mengerti, seperti apakah hadiah ini, hadiah yang membawa kebahagiaankah? atau merupakan masalah yang melukai banyak pihak?. Bohong jika aku tak memiliki rasa suka padanya, Namun aku yang seorang duda dengan seorang putra yang sudah cukup besar bukanlah hal yang mudah mendekati gadis belia muda yang baru saja lulus dari sma. akankah cerita ini menjadi sebuah Happy ending ataukah malah menjadi kisah sendu yang menguak banyak luka dari kisah ini atau, ada jawaban ketiga yang bisa kami pilih menjadi opsi yang lebih baik.
"Seperti biasa neng? " aku mendakati dirinya di mejanya yang terkepung tetesan hujan dengan sebuah payung yang melindungiku dari brondongan hujan deras. Namun dia hanya membalas senyuman manisnya yang hambar. "Boleh gabung? " dia hanya tersenyum dan mengangguk kecil, akupun melipat payungku dan duduk didepannya. Sekali lagi dia lemparkan senyumannya dan aku membalasnya dengan senyuman ramah. "Sendiri lagi? " dia tertunduk seakan ada yang di pikirkan. "Iya mas... Sendiri" diapun kembali menunduk seakan menghindari kontak mata denganku. "Saya bukan orang jahat kok, saya pemilik coffee shop Dream ini" dia tertawa kecil seakan ada yang lucu dari ucapanku. "Iya saya sudah tau om siapa" dan dia tertawa kecil seakan menertawakan sesuatu. "Ah iya jga ya" akupun tertawa mengingat ucapan tololku tadi, dan dia pun ikut tertawa bersamaku. Wajah tersenyumnya sungguh manis dan membuat jantungku berdebar-debar. "Gimana kopinya? Mantap? " aku segera mengalihkan percakapan untuk menenangkan jantungku yang berdebar-debar. Dirinya tersenyum sambil memikirkan sesuatu "Seperti biasa om, mantap... ". Aku tersenyum merasa puas karena pelanggan setiaku memuji kopi buatanku "Kenapa gak pindah ke dalam aja, diluar kan hujan, kamu gak dingin? ". Megu diam sejenak "Sebenernya sih dingin om, tapi ak takut kopinya kehujanan pas pindah ke dalam". "Hahaha jadi itu yang bikin kamu gak pindah?" megu mengangguk sambil tersenyum malu. "Ya udah sini kita pindah kedalam saya bawa payung cukup besar kok?" aku mengambil cangki kopinya dan membuka payung. "Iya om, terimakasih ya om" wajahnya terlihat sumringah dan segera menempel di dekatku yang teduh tak tersentuh brondong hujan dan lagi jantungku berdebar-debar dan kali ini bukan main kerasnya.
"Jadi... kenapa kamu tidak masuk ke dalam?" Dengan hati-hati ku membuka pintu kafe yang transparan dan masuk kedalam. "Hah...?" Wajahnya terlihat bingung dwngan pertanyaanku. "Di gedung sebelah" sembari jari telunjuk kiriku menunjuk kearah sebelah kananku. Sejenak dia terdiam "mmm...." akupun meletakan kopi yang kubawa kesebuah meja disebuah pojokan ruangan cafe yang menurutku memiliki pemandangan yang menarik. "Tidak keberatan jika kuletakan disini?" Aku bertanya padanya yang sedang kebingungan menjawab pertanyaanku. "Silahkan..." jawabnya dengan senyuman manisnya. "Baiklah ak permisi dulu" tanpa menunggu jawabannya akupun pamit pergi dan memalingkan wajahku. "Karena tidak ada yang menungguku disana" suaranya terdengar lirih membuatku kembali menatapnya yang sedang tertinduk. "Gadis secantik dirimu?" Aku menatap wajahnya yang perlahan terangkaat dan mulai menatapku "aku heran pria bodoh macam apa yang tidak ingin pergi dengan hadis secantik dirimu" ucapanku memaksanya tertunduk malu dan membuatnya salah tingkah. "Jangan bercanda, a ak aku tidaklah secanik itu" terlihat sekali gelagatnya yang salah tingkah itu membuatku tertawa. "Hahahaha... setidaknya apa tidak ada teman dekatmu yang akan merasa kehilanganmu?" Megu tersentak dan segera duduk di kursinya "sepertinya mereka bahagia tanpaku" dengan kesal dia segera memalingkan wajahnya keluar jendela. "Benarkah? Lalu kenapa telepon genggamu terus bergetar?" Megu panik dan segera mengambil hpnya didalam tas, namun sepertinya bukan dari orang yang dia harapkan karena, segera ia letakan hpnya dimeja dengan posisi terbalik. "Bukan ya, apa dari orang yang membuatmu tidak mau hadir gedung sebelah?" Megu tersentak kaget "dari mana kamu tau, dasar sok tau". "Karena wajahmu semacam bilang gitu" wajah megu semakin terlihat kesal. "Kalo ia emang kenapa?" Aku tertawa mendengar dan duduk di depannya "mmm... jadi mantan kekasih ya" dia semakin donkol saja. "Biarin, lagian apa itu mantan kekasih, telepon genggam kuno sekali" aku tertawa melihat ekspresinya "Hahaha...maaf deh maaf aku gak maksut jelek kok" megu segera menyeruput kopinya yang sudah dingin "iyabaku maafin tapi kopiku sudah dingin nih" aku segera meraba cangkir kopinya untuk memastikan "Mau aku panasin?" Dia tersenyum malu " mmm boleh kalo gratis" ak tersenyum menatapnya" tentu gratis buat kamu apa sih yang enggak hahahaha" aku beranjank dari kursiku membawa cangkir kopinya. "Kenapa gak kopinya sekalian gratis hehehehe" jawabnya usil. "Kalo gratis nanti aku bisa bangkrut loh" megu mendengus kesal "memang bisa bangkrut ya" teriaknya.
Aku kembali setelah menghangatkan kopinya dengan membawa sebuah handuk kecil dan duduk di sebelahnya "ini kopinya dan ini handuknya" megu terlihat terkejut denhan handuk yang aku bawa." Terimakasih" jawabnya singkat. "Kenapa kamu suka kopi hitam?" "Mmmm... jadi, aku selalu minum kopi hitam yang pait supaya menggambarkan paitnya hatiku saat ini gitu" dengan wajah bingun aku menatapnya "jadi setiap kamu ke sini suasana hatimu lagi pait donk" "mmm... sepertinya gitu" "aku jadi penasaran kamu bakal minum apa kalo kamu lagi senang?" Megu tertawa mendengar ucapanku "mmm aku jga minum kopi lah, tapi ak pesanya yang manis" " oooww apa sih yang bikin kamu suka kopi?" Megu terlihat bingung dangan pertanyaanku "mmm gak pernah aku kepikiran ke situ sih, tapi apa yah... menurutku mungkin kopi adalah minuman yang biasa diminum orang saat lagi ngumpul barang jadi, setiap aku minum kopi aku merasa gak sendirian walaupun aku lagi minum sendirian dan lagi kopi indonesia merupakan kopi terbaik didunia jadi ya sebagai orang indonesia aku juga harus menyukai produk negara sendiri kan" dengan bangga megu memaparkan alasannya "ciee... orang indonesia sejati nih?" "Ialah hehehehe..." "tapi aku setuju loh sama pendapatmu yang pertama, wah untuk anak sma ok juga pemikirannya" "iya donk aku kan gini-gini pintar"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar